National Literacy Trust di Inggris baru-baru ini mengumumkan hasil survey mereka yang mencengangkan. Kenapa tidak, dari hasil surver tersebut disimpulkan bahwa anak-anak yang punya blog dan suka ngeblog, ber-sms ria, atau suka cat-cit-cut di situs jejaring sosial ternyata lebih jago menulis artikel dibandingkan yang tidak. Mereka rata-rata berkemampuan lebih sebagai penulis artikel handal dibandingkan yang jarang menggunakan teknologi ini.
Survey itu sendiri melibatkan 30 ribu lebih anak yang berusia antara 9 sampai dengan 16 tahun. Dari sana didapatkan hasil dimana 73% anak suka memakai instant messaging untuk curhat dan ngobrol online di lingkungan komunitas mereka, seperti teman, kenalan baru dan sebagainya. 26% lainnya memiliki blog sebagai media tempat mereka menulis segala unek-unek dan pendapat mereka.
Jonathan Douglas, Director of the National Literacy Trust mengatakan, "Terdapat kolerasi yang kuat dimana anak-anak yang femiliar dengan teknologi dan menggunakannya setiap waktu lebih memiliki kemampuan menulis yang baik, baik itu menulis artikel, laporan sekolah dan bentuk tulisan lainnya."
Selalin itu, John Coe, General Secretary National Association for Primary Education (NAPE) menambahkan bahwa guru-guru di sekolah-sekolah berperan kuat dalam membentuk hal demikian. Namun banyak juga para guru yang ragu mengakrabkan anak-anak didik mereka dengan teknologi dan komputer tersebut. Walaupun demikian, lebih banyak anak-anak yang tahu komputer dengan belajar sendiri di rumah dan sesama teman dibandingkan mendapatkannya di sekolah."
Douglas juga mengatakan bahwa bagimanapun, gaya menulis anak-anak tersebut tentu belum semahir para penulis artikel sungguhan. Tapi ini bukanlah hal yang dirisaukan. Karena hal tersebut wajar dan merupakan latihan mereka dalam mengasah kemampuan menulis mereka. Juga bahasa yang mereka gunakan masih bercampur baur dengan istilah dan singkatan-singkatan yang tidak baku.
"Yang penting mereka sudah berusaha menulis artikel dan melakukan pekerjaan menulis artikel. Ini yang lebih penting," ungkapnya lagi.
Survey itu sendiri melibatkan 30 ribu lebih anak yang berusia antara 9 sampai dengan 16 tahun. Dari sana didapatkan hasil dimana 73% anak suka memakai instant messaging untuk curhat dan ngobrol online di lingkungan komunitas mereka, seperti teman, kenalan baru dan sebagainya. 26% lainnya memiliki blog sebagai media tempat mereka menulis segala unek-unek dan pendapat mereka.
Jonathan Douglas, Director of the National Literacy Trust mengatakan, "Terdapat kolerasi yang kuat dimana anak-anak yang femiliar dengan teknologi dan menggunakannya setiap waktu lebih memiliki kemampuan menulis yang baik, baik itu menulis artikel, laporan sekolah dan bentuk tulisan lainnya."
Selalin itu, John Coe, General Secretary National Association for Primary Education (NAPE) menambahkan bahwa guru-guru di sekolah-sekolah berperan kuat dalam membentuk hal demikian. Namun banyak juga para guru yang ragu mengakrabkan anak-anak didik mereka dengan teknologi dan komputer tersebut. Walaupun demikian, lebih banyak anak-anak yang tahu komputer dengan belajar sendiri di rumah dan sesama teman dibandingkan mendapatkannya di sekolah."
Douglas juga mengatakan bahwa bagimanapun, gaya menulis anak-anak tersebut tentu belum semahir para penulis artikel sungguhan. Tapi ini bukanlah hal yang dirisaukan. Karena hal tersebut wajar dan merupakan latihan mereka dalam mengasah kemampuan menulis mereka. Juga bahasa yang mereka gunakan masih bercampur baur dengan istilah dan singkatan-singkatan yang tidak baku.
"Yang penting mereka sudah berusaha menulis artikel dan melakukan pekerjaan menulis artikel. Ini yang lebih penting," ungkapnya lagi.

0 komentar:
Posting Komentar